Five Nights At Freedy's (Episode 4)




Penulis: Scott Cawthon


"Hallo? Hallo? Uh, hei kau, malam ke empat! Sudah saya katakan kau dapat menguasainya! Ok, jadi uh, hanya untuk memberitahumu, uh, sudah ada yang, uh, investigasi sedang berlangsung. Uh, kita mungkin akhirnya harus menutup restoran selama beberapa hari... Aku tidak tahu persis. Saya ingin menekankan bahwa meskipun itu benar hanya untuk berjaga-jaga. Uh, Fazbear Entertainment membantah melakukan kesalahan. Hal ini terjadi kadang-kadang. Um... Ini semua akan selesai dalam beberapa hari. Teruslah awasi para Animatronic, dan aku akan tetap memantaumu,"

"Uh, sebagai catatan, cobalah untuk menghindari kontak mata dengan salah satu Animatronic malam ini jika kau bisa. Seseorang mungkin telah merusak sistem pengenalan wajah mereka—namun aku tidak yakin. Tapi Animatronic telah bertindak sangat tidak biasa, hampir agresif terhadap staf. Mereka berinteraksi dengan anak-anak baik-baik saja, tetapi ketika mereka menghadapi orang dewasa, mereka hanya... menatap."

"Uh... Lagi pula, tetap di sana. Kau akan melewatinya. Selamat malam!"

Begitulah pesan malam ke empat dari sang 'Phone Guy'. Jeremy telah memutuskan untuk menyebut pria itu sebagai 'Phone Guy'.

"Malam ke empat. Kurasa aku akan baik-baik saja,"

Tampaknya Jeremy sudah terbiasa, ia tidak perlu melihat ruangan lain selain Prize Corner. Bukan karena ia tidak perlu khawatir akan ada pencuri—pencuri akan berpikir dua kali kalau ia ingin mengacaukan tempat ini. Jeremy hanya tertuju pada Marionette, lorong dan ventilasi kiri-kanannya.

Setiap ia menyinari lorong, sekalipun ada Foxy, Bonnie maupun Animatronic lainnya, ia tak gentar. Hanya perlu menyinari mereka berkali-kali. Dan jika ada yang masuk dari ventilasi, Jeremy cukup memakai topeng Freddy sampai mereka pergi, begitu juga para Animatronic yang tiba-tiba muncul di hadapannya, benar-benar di hadapannya.

"Hhhhh, hhhh," tetap saja Jeremy merasa terancam. Terlebih ia sangat benci Bonnie jika masuk ke ruangannya. Bagaimana tidak, tubuh gempal tak punya wajah itu bisa datang tiba-tiba. Orang yang lemah pasti jantungnya tidak kuat. Tidak hanya Bonnie yang ia benci. Chica dan Toy Chica juga suka mengganggunya.

'Mungkin aku sudah gila. Tetap bekerja di sini walau mungkin taruhan nyawa, dan telepon tak pernah berfungsi. Tapi, sungguh aku penasaran kenapa mereka berperilaku seperti ini. Saat aku ikut menjaga siang hari, mereka memang ramah dan membuat anak-anak senang. Tapi, saat malam mereka begitu berbeda,'

Jeremy terlalu memikirkan mereka, para Animatronic itu. Suara Mangle membangunkannya dari lamunannya. Mulutnya yang terbuka ter-ekspos dari ventilasi bagian kanan. Jeremy buru-buru memakai topengnya, dan menunggu sampai suara statik itu menghilang. Selanjutnya justru yang datang adalah Balloon Boy. Cukup menghitung lima detik atau lebih saat Jeremy memakai topengnya, Balloon Boy sudah pergi lagi. Jeremy memang terselamatkan oleh topeng Freddy yang kosong itu.

"Hah? Siapa yang menaruh kertas kreasi itu di sana?" Jeremy memicingkan matanya, menatap dinding di depan bagian kanan.

Sejak ia pertama bekerja di sini, sang Manajer juga hanya menjelaskan kalau ia tak perlu khawatir. Cukup memeriksa ruangan lewat kamera. Jeremy mengira ia akan berjalan-jalan di malam hari mengelilingi tempat ini. Ternyata tidak, dan Jeremy merasa bersyukur. Kalau saja ia disuruh berkeliling, sudah jadi apa Jeremy nanti.

Namun yang Jeremy tidak menduga selain Animatronic yang tidak punya 'modus malam', ia harus mengalami hal spiritual seperti ini. Bagaimana bisa benda sebesar itu dapat menghilang dan berjalan-jalan kesana kemari seperti ninja.

.

.

.

Jam enam pagi datang tanpa terasa. Jeremy tampaknya sudah terbiasa dengan teror dari mereka. "Huaaah~! Akhirnya—"

Jeremy menatap layar televisinya, gelap tiba-tiba. Lalu garis merah secara horizontal muncul. Beberapa detik kemudian ia melihat game itu lagi. Namun mode yang sangat berbeda. Enam anak kecil, di tengahnya ada Freddy. Tentu mereka semua dalam bentuk pixel arcade game.

Jeremy mau tak mau memainkannya, karena ia yakin ini petunjuk dari para Animatronic. Tugas Freddy adalah memberi kue kepada anak-anak yang berwarna merah agar menjadi hijau, dalam arti memberi kue kepada anak yang marah agar mereka senang lagi.

Mata Jeremy tertuju pada anak kecil yang menangis tersedu-sedu di luar ruangan sana. Dan ia merasa kecepatan karakter yang ia mainkan semakin melambat saat mobil ungu datang. Dan semakin melambat, sangat lambat saat manusia berwarna ungu dalam pixel mendekati anak yang menangis tersedu itu. Dan karakternya tak bisa digerakan sama sekali.

"Huh?"

Jeremy kaget melihat anak kecil itu melebar matanya dan berubah menjadi abu-abu. Seperti game sebelumnya, lima anak kecil abu-abu itu ternyata tandanya sudah mati. Jeremy kini paham game macam apa ini.

"HUAAHHHH!"

Jeremy berteriak, ia kaget melihat Marionette seperti loncat dari dalam layar televisi itu. "Di-dia? Kenapa ada—" Jeremy tersentak, seakan ia menemukan teka-teki baru. "Kenapa, Jeremy?" suara Manajer muncul, di hadapannya dan memasang wajah khawatir.

"Tidak—hanya kaget. Game itu muncul lagi," jelasnya sambil membereskan mejanya. "Game itu lagi? Siapa yang usil memasukannya? Televisi ini tidak seperti komputer—maksudku mana bisa ada game di dalam situ." Jeremy setuju, namun yang terjadi tadi itu sungguhan.

Jeremy berkemas dan hendak pulang. "Hey, kau sudah selesai bekerja pada malam ke empat? Hebat!" sapa pria paruh baya itu lagi. Jeremy menatapnya, dan menghampirinya. "Boleh aku tahu namamu? Dan kau bekerja sebagai apa di sini?"

"Aku? Uh, seperti yang kau lihat, aku waiter di sini. Bekerja di siang hari mengawasi para Animatronic. Uh, namaku?"

Jeremy memasang wajah seriusnya. Ia merasa pernah mendengar suara 'uh' itu, setiap malam. "Namaku—"

"Hey! Siap-siap membuka restoran! Jangan mengobrol saja! Nyalakan para Animatronic!" suruh seseorang. "Uh, maaf. Aku harus kerja dulu," Jeremy pun tak dapat berbuat apa-apa. Di restoran ini para pegawai tidak memakai name tag sendiri. Hanya memasang name tag jabatan, dan itu hanya beberapa orang.

.

.

.

"Yo! Bagaimana kerjamu? Tidak terjadi apa-apa, 'kan?" seperti biasa, teman dekatnya menanyakan. "Tidak juga. Teror para robot itu masih ada. Aku juga baru saja menemukan teka-teki. Tapi, masih bingung sebenarnya apa yang terjadi,"

"Hmmmm, kurasa ada yang bersangkutan dengan ilmu hitam? Penganut ajaran sesat? Atau lainnya? Itu menurutku. Soalnya hanya beberapa orang saja yang bisa mengontrol atau menjadikan boneka maupun robot jadi berbahaya, terutama pada malam hari,"

"Berbahaya itu hanya menurut instingku," ujar Jeremy. "Tapi instingmu tajam. Aku tidak pernah meragukan temanku! Seandainya Manajer-mu itu mengizinkan aku untuk berjaga bersama. Aku juga ingin melihat mereka,"

"Kau ke sana saja kalau begitu, menggantikanku," sarannya, temannya itu tahu kalau Jeremy bercanda. "Kau istirahat saja, sana! Kau bisa terlambat berangkat kuliah nanti,"

.

.

.

Semenjak Jeremy kerja malam, konsentrasi dalam belajar berkurang. Sering ia tertidur dalam kelas, dan sering melamun. Terkadang ia menggambar beberapa Animatronic dalam bukunya. Membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri, antara tidak mengerti gambar apa itu dan mungkin gambarnya terlalu bagus.

Saat Jeremy pulang, ia dicegat teman baiknya itu. "Jeremy! Aku menemukan sesuatu!"

.

"Memang benar Manajer bilang ada insiden di Fred Bear's Family Diner. Tapi, ini fakta?" tanya Jeremy setelah menerima beberapa berkas dari temannya itu. "Ya! Ini sungguhan terjadi!"

Jeremy membaca artikel itu lagi; Fred Bear's Family Diner ditutup karena di depan restoran terjadi pembunuhan. Sang korban diketahui anak angkat dari pemilik restoran. Pembunuhnya tidak diketahui, dan mereka menutup restoran itu tak lama kemudian.

"Kau tahu? Tadi pagi aku memainkan game aneh itu lagi yang muncul dalam televisi. Aku melihat anak kecil terbunuh di depan restoran kecil. Mungkin—"

"Ya! Mungkin saja ada hubungannya dengan ini!"

"Kalau diingat kembali. Setiap ada manusia berwarna ungu, game itu berakhir. Kurasa ia penjahatnya, siapakah dia?" Jeremy manggut-manggut. "Misteri ini belum lengkap semua, karena itu aku masih ingin kerja di sana,"

"Apa Animatronic bisa bicara? Maksudku selain bernyanyi, kau pernah mengajak mereka bicara?" temannya sangat penasaran rupanya.

"Pernah—namun tentu mereka tidak menjawab. Hanya menjawab dengan kata-kata basic yang diprogramkan,"

"Iya, sih. Kalau begitu coba kau sarankan kepada Manajer untuk memanggil peramal ataupun pengusir hantu? Pendeta?"

"Percuma saja, ia susah dibujuk, Fritz. Manajer orangnya tidak percaya kecuali melihat dengan mata kepalanya sendiri," Jeremy mendengus kesal. "Suruh saja dia berjaga malam!" temannya ikut emosi.

Malaikat Pelindung Bernama 'Love'


Ini merupakan bentuk ungkapan terima kasih yang ditujukan untuk seorang sahabat.


Sahabat yang selalu ada untukku. Dia mengawasiku seiring waktu yang mengantarku pada kedewasaan, dan dia merupakan sosok sahabat terbaik, yang sempurna, yang bisa dimiliki oleh seorang bocah.

Walau saat itu, aku tak menyadarinya.

Dia selalu ada, walau aku tak bisa melihatnya, dan dia selalu berusaha untuk menyenangkanku walau kadang, cara yang ia pilih tidak bisa kupahami. Aku ingin meluangkan waktu dengan berbagi cerita kami, sebab jika beruntung, kau mungkin bisa mendapatkan seorang sahabat yang seperti ini juga.

Kupikir, sebagai awal, aku akan membacakan suratnya dulu. Pada bulan Mei 2010, aku membeli sebuah komputer baru sementara yang lama, kubawa ke toko untuk ‘memback-up’ file-file lama yang kuanggap penting. Setelahnya, komputer yang baru kubawa pulang dan kuisi dengan file-file dari harddisk portable, serta menginstal beberapa program. Saat itulah kulihat ada sebuah file di dalam folder Misc. yang memang sengaja dibuatkan oleh teknisi toko, untuk menyimpan file-file yang kerap terserak begitu saja. Nama file itu adalah HappyBirthdayBaby.txt.

Aku langsung berpikir bahwa file itu merupakan pesan dari ibu yang terlewat kubaca. Saat kemudian kubuka, berikut inilah yang kutemukan.

-o0o-

Mungkin kau akan menemukan ini suatu saat … aku tak begitu pintar mengoperasikan komputer, tapi aku kerap melihatmu mengotak-atik mesin satu ini, dan kupikir, aku tahu cara untuk menyimpannya agar suatu saat kau akan menemukannya. Sadar waktuku pergi akan segera tiba, aku ingin meninggalkanmu pesan singkat ini.

Aku tahu kau belum pernah bertemu ayahmu. Namun bagiku, dialah sosok Kolonel Marcus Andrew Stadfield. Aku yakin ibumu kerap menceritakan seperti apa dirinya. Dia pria yang baik, sosok dengan harga diri layaknya seekor singa, kuat laksana beruang, dan hati semurni emas. Pada kenyataannya, aku sudah layaknya putra baginya sebelum kau lahir. Aku merupakan tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya, dan telah bertugas di bawah perintahnya selama tiga tahun.

Saat itu, aku menyaksikan sendiri isak tangis ibumu saat dia mendengar kabar itu. Dalam perutnya yang buncit, kelahiranmu untuk menyongsong kehidupan baru di dunia ini tinggal menunggu hari, dan sejak itu, aku menjaganya. Tiap detik, menit, setiap hari. Hingga kemudian kau lahir dan fokus kualihkan padamu.

Aku melihat saat mereka memandikan dan kemudian menyerahkanmu pada dekapan ibumu untuk yang pertama kalinya. Ibumu seolah menatap tepat ke mataku dengan sorot sendu, saat itu aku berdiri tidak jauh dari kalian berdua. Dia seolah tahu aku hadir, dan aku yakin seyakin-yakinnya bahwa dia memang tahu. Aku melihatmu tumbuh dan ingat segalanya, bahkan hal-hal yang mungkin tak kau ingat. Kau selalu menjadi bocah yang riang, nampaknya, kau mewarisi sisi humoris ayahmu. Saat berumur empat bulan, kau nyaris melakukan apa saja untuk menghalangi ibumu untuk mengganti bajumu, saat-saat itu selalu dipenuhi dengan tawa. Kau begitu hangat dan memesona, sama seperti sosokmu yang sekarang ini.

Sama seperti Marcus.

Umur enam bulan, kita selalu bermain kapan pun. Dulu kita punya permainan favorit. Jadi begini, aku akan menyengkeram jemari kaki dan menggelitik perutmu. Kau sungguh menyukainya. Tapi aku harus berhenti jika ibumu datang, dan yang satu ini tentu saja kerap membuat ibumu bingung, sebab akan nampak baginya bahwa kau tiba-tiba menangis. Setelah hal ini terjadi begitu sering, dia mengira bahwa kau membencinya. Saat itulah aku sadar bahwa aku harus sedikit mengambil jeda.

Saat berumur satu tahun, kau jadi terlihat seolah punya indera keenam, dan walau tidak benar-benar bisa melihatku, kau tahu benar bahwa aku ada di dekatmu. Aku tidak bisa bermain denganmu sesering sebelumnya, sebab aku paham hal itu bisa melukaimu kelak. Tapi, aku selalu siap menjagamu. Aku yakin kau ingat bahwa kau telah merasakan keberadaanku, sebab kau punya cara sendiri untuk mengetes keberadaanku. Kau akan melempar mainan ke sudut ruang di mana aku berdiri, kemudian kau menungguku untuk memainkan atau menggerakkan mereka. Nah, kalau yang ini aku tahu kau tidak mengingatnya. Jadi, saat itu kau melemparkan boneka beruang dan boneka perca, dan karena ibumu sedang sibuk di dapur, kupikir akan mengasyikkan jika kubuat sebuah pertunjukan kecil. Tidak terlalu spesial, sih, aku hanya membuat mereka menari. Sedikit. Kau tertawa keras sekali sehingga membuat ibumu datang tergopoh untuk mencari tahu apanya yang lucu, tapi, saat melihatnya, dia tak tertawa sama sekali. Aku berani bertaruh; jika kau sebut-sebut tentang boneka beruang dan boneka perca yang menari –bahkan saat ini- pada ibumu, dia pasti akan langsung pucat. Tapi tolong, jangan lakukan itu, yah. Kasihan dia. Tapi kalau kau masih penasaran, bolehlah kau tanya padanya apakah kau kerap melempar mainan ke pojokan. Ingatan yang itu jauh lebih ramah baginya alih-alih boneka yang menari dengan sendirinya.

Kau ingat kata pertamamu? Aku ingat: “Love.” Hahah. Ibumu tahu betul cara untuk membuatmu paham bahwa dia sangat menyayangimu. Tiap saat setiap harinya, dia akan mengatakan “Love you, baby … aku menyayangimu, sayang.” Kenangan yang paling mengharukan bagiku adalah saat ibumu sedang menggantikan pakaianmu pada suatu hari. Sepertinya kau melihat bayanganku di cermin di belakangnya, kemudian kau menunjuk dan mengucap, “Love” (Yah, walau sebenarnya lebih terdengar seperti ‘wuv’ tapi ibumu tahu) kemudian dia tertawa dan mengangguk. Untuk sementara, hanya itu kata yang kau ucapkan, tapi saat aku menjauh dari cermin, kau menjadi gelisah. Aku sadar setelahnya, bahwa aku mesti lebih berhati-hati dan diam-diam. Kau tumbuh semakin besar seiring bertambahnya hari, dan aku tak boleh mengingkari janjiku pada ayahmu. Untuk itulah, aku harus menjaga jarak kembali.

Cukup sering aku melanggar aturan untuk melindungimu, sebab, sumpah janjiku pada ayahmu merupakan segalanya. Aku ingat saat umurmu tiga tahun dan kau sudah mahir berjalan. Saat itu kau jadi si pramuka cilik. Hahah. Kau tidak mau diam, kaki-kaki mungilmu siap mengantarkanmu menuju dunia yang baru dan kau tak pernah merasa malu sedikit pun untuk menjelajah. Satu hari kau pergi ke swalayan bersama ibumu, dan seorang ibu dengan tas mengilap menarik perhatianmu. Kau langsung saja berlari mengejarnya, padahal saat itu ada orang lain yang sedang mendorong troli di depannya dari arah berlawanan. Dia tidak melihatmu, karena perhatianmu hanya tertuju pada tas, kau juga tidak melihatnya. Melanggar peraturan memang tidak diperbolehkan, namun membiarkanmu terluka juga tak boleh terjadi. Saat kau menyadarinya, semua sudah terlambat; kau jatuh terduduk sebelum menyelesaikan niatmu. Tak ada pilihan lain, kulempar trolinya hingga terbang menghantam sisi lemari pendingin. Dia kemudian menjerit keras sekali, “Pria berseragam!” Kau hanya terkikik saat kemudian orang-orang mulai berkerumun dan ibumu datang. Dia mendapatimu baik-baik saja tanpa lecet sedikit pun, dan kemudian kau menunjuk ke arah troli yang menghantam lemari pendingin. Tahu apa yang kau katakan saat itu? “Love, Ibu.” Saat itu aku bersembunyi, malu rasanya sudah membuat kegaduhan semacam itu, walau kuakui, dalam hati aku tertawa.

Saat semakin besar, kau semakin waspada, maka begitu juga aku. Akhirnya aku tahu kapan aku boleh dan tidak boleh mencampuri urusanmu. Terlalu berlebihan hanya akan membuat kita berdua terluka, jadi kupilih kapan harus bertindak dengan hati-hati sekali. Kau anak yang cerdas, sama seperti ayahmu, nyaris setiap saat kau mampu menghadapi permasalahan. Jika ada kesempatan, kau akan mengambilnya, walau beberapa kali aku kecolongan saat kau makin besar, tapi kupikir aku cukup baik menjagamu. Yang kulakukan kemudian hanya hal-hal sepele yang membuat rutinitas hidupmu jadi lebih mudah, hal-hal yang mungkin tak akan kau ingat seperti; memasukan partitur piano ke dalam tas saat malam, mematikan TV saat kau tertidur, menyelimutimu saat malam yang dingin, merapikan laci, memasang alarm, menutup jendela …. Kau memang memergokiku beberapa kali saat kulakukan hal-hal itu, dan lewat surat ini, aku ingin meminta maaf karena telah membuatmu takut. Pernah satu kali saat kau mengerjakan PR dan tertidur kemudian, jadi kukerjakan tugas matematikamu. Sebelumnya kau mengeluh pada ibumu mengenai betapa banyaknya tugas-tugas yang para guru berikan dan aku tahu betul bahwa kau memang mampu mengerjakannya, hanya saja memang kau terlalu lelah. Namun kau tentunya bingung juga saat keesokan harinya kau mendapati sebagian lembar jawaban yang sebelumnya kosong, ternyata sudah penuh terisi. Kau semakin besar dan lupa bahwa kita sesungguhnya bersahabat, hal-hal yang kau baca mengenai keberadaan hantu membuatmu takut – dan aku sadar, kau berhak untuk merasa takut. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Tak ada maksud sedikit pun untuk menakutimu, untuk menyakitimu. Andai saja aku sedikit lebih hati-hati, tentunya kau tak perlu merasa semua itu. Niatku hanyalah untuk menjaga dan membuatmu terus bahagia.

Saat makin dewasa, kau tumbuh menjadi sosok wanita anggun dan terhormat, dan kau mulai memahami sisi jahat dalam diri seorang lelaki. Walau cerdas, sayangnya, kau kerap sembrono, mengambil resiko yang tak sebanding, hingga kemudian, menjagamu menjadi tugas yang kerap membuatku khawatir. Perlahan, aku harus memunculkan diri semakin sering. Yang paling kuingat adalah saat malam itu, di mana kau mengajak pulang pemuda yang sungguh tak layak, dan dia mulai bertingkah. Ibumu sedang bekerja, pemuda itu hanya punya satu niat, dan walau bukan kuasaku untuk menentukan apa yang baik dan buruk untukmu, namun saat itu umurmu baru 15 tahun …. Saat kemudian dia menindih dan mulai melucuti bajumu, melepas bajunya dan membisikan omong kosong gombal, wajahmu mengatakan segalanya. Kau ketakutan. Dan saat kau memintanya berhenti namun dia tak mengacuhkan, dan saat kau mencoba mendorongnya dan dia kalap, saat dia memitingmu dan berusaha memasukan tangan ke balik rokmu, semua sisi gelap dalam diriku jebol sudah, segalanya meluap tanpa bisa kukontrol. Kemarahan seperti mendidih dalam diriku dan aku mulai menggeram. Lampu mulai berkedip-kedip, volume TV naik, pintu-pintu dan jendela terbanting dan berderak-derak. Tuts-tuts piano mulai berdenting, kemudian dengan teriakan ayahmu aku mengaum “ENYAH DARI SINI, BOCAH!” Dia berlari keluar dari kamar dank au berusaha mengikutinya, namun kabanting pintu sehingga tertutup di depanmu dan tak membukakannya sampai ibumu datang. Maafkan aku, Nak, segalanya tentu membuatmu trauma selang beberapa waktu …. Ketakutanmu padaku semakin bertambah setelah mengalami hal semacam itu, dan aku paham, bahwa sejak kejadian itu, betapapun aku sangat menyayangimu, kita takkan bisa lagi bersahabat. Tidak setelah apa yang kulakukan.

Beberapa malam setelahnya, aku kerap terjaga di malam hari, mencari-cari keberadaanku. Aku harus duduk meringkuk di pojokan tergelap kamar sambil menatap balik padamu. Andai saja aku bisa menjelaskan padamu bahwa segala yang kulakukan tidak kumaksudkan untuk menyakitimu. Kau suka menjerit “Aku benci kamu! Pergi! Jangan ganggu aku!” Dan sama seperti yang kau lakukan saat masih bayi, kau kemudian melemparkan barang-barang ke pojokan. Namun kali ini alih-alih mainan agar kita bisa bercanda bersama, yang kau lemparkan saat itu berupa buku-buku tebal, wadah kaset, apapun yang bisa kau raih untuk membuatku pergi. Kau kerap duduk dan menatap pojokan itu …. Aku merasa sangat bersalah sekali sekaligus sedih atas perbuatanku. Aku nyaris melanggar janjiku pada ayahmu – namun yang terpenting, aku nyaris melanggar janjiku padamu.

Hingga kemudian malam itu tiba. Saat itu aku merasa kau hendak berbaikan denganku. Malam itu kau duduk dan berkata “Jika kau di sini, aku minta maaf. Niatmu hanya menghentikannya ….” Aku ingin mengucapkan sesuatu, namun aku tidak bisa, walau kemudian kau mondar-mandir dan nampak begitu gelisah dan terus bicara “Kau di sini, ‘kan? Beri akau tanda jika memang iya.” Sungguh, aku amat sangat ingin melakukannya, namun karena khawatir jika kemudian kau ketakutan lagi, yang bisa kulakukan hanyalah bungkam dan mengangguk di pojokan gelap itu, di mana kau tidak bisa melihatku. Aku tak pernah marah padamu, kau hanya seorang gadis kecil sementara bedebah cilik itu benar-benar membuatku kalap. Janji padaku kau takkan mengulangi hal semacam itu lagi. Janji, yah.

Hari ini, tepat ulang tahunmu yang kedelapanbelas. Itu alasan kenapa aku menuliskan semua ini. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Aku yakin ayahmu sudah jenuh menungguku untuk duduk di sebelahnya di bar itu. Baik-baik, yah di sana. Cobalah untuk tidak melupakanku, kau sudah besar dan jadi sosok yang luar biasa.

Ayahmu pasti sangat bangga.

Surat ini merupakan kado untukmu, dan sekarang, kau tak perlu resah akan pojokan kamar yang seram itu, tugas terakhirku rampung sudah. Aku tak tahu apa pendapatmu, namun rasanya prajurit ini layak ditraktir minum; kau benar-benar membantuku! Hahah!

Jika kelak kau menemukan surat ini, cobalah untuk memanggilku.

Jaga diri, jaga kesehatan, dan hiduplah dengan bahagia.

Love,
Lt. Ashley Gilchrist.

PS. Jika ingin memanggil, panggil aku dengan sebutan yang selalu kau sematkan padaku saat kau kecil. Hal itu selalu membuatku bergegas datang.

-o0o-

Sebuah godam serasa menghantamku saat selesai membaca surat ini; aku paham segalanya kini. Semua hal yang telah terjadi saat aku tumbuh. Aku selalu mengira bahwa aku berhalusinasi hingga sampai saat itu, ketika mantan pacarku nyaris memperkosaku. Harus kuakui keberadaannya memang membuatku takut, sebab aku tak memahaminya, kenapa di ada dan apa tujuannya, namun sekarang aku paham, dan sadar bahwa selama ini aku keliru.

Beberapa hari setelah aku membaca surat itu, aku bertanya pada ibu mengenai beberapa hal seram yang terjadi seiring dengan bertambahnya umurku. Ibu terlihat tak acuh mengenai banyak hal – hingga kemudian, aku menyinggung mengenai peristiwa di swalayan. Saat itulah, ibu yang sedang bersih-bersih, berhenti seketika, menoleh padaku denga seulas senyum. “Ada malaikat pelindung yang selalu menjagamu, asal kau tahu, sayang. Ibu tak tahu apakah itu ayahmu atau bukan, namun siapa ata apapun dirinya, dia selalu memastikan bahwa tak ada hal buruk yang menimpamu.” Saat ibu berbalik dan mulai mencuci piring, dia bertanya, “Jadi, ibu rasa kau sudah bertemu dengannya, yah?”

“Tidak juga sebenarnya. Dia meninggalkan sesuatu.” Aku pergi ke kamar dan mengambil laptop, kemudian kutunjukan surat itu pada ibu. Saat akhirnya selesai membaca, ibu nampak tak sanggup lagi menahan air matanya. Kemudian, dia menceritakan padaku mengenai sahabat ayah.

“Dia anak yang baik …. Dulu Marc mengajaknya ke rumah untuk menemui Ibu, dan ayahmu melihat sesuatu dalam diri anak ini. Dia sangat loyal pada ayahmu. Rasa sayang dan hormat pada Marc, bahkan kerap membuat Ibu malu pada diri sendiri. Saat dia datang pada cuti, Marcus mesti memerintahnya untuk menganggap seperti di rumah sendiri, bahkan untuk melepas seragam, ayahmu juga mesti memintanya dahulu. Caranya menatap Marcus, nyaris layaknya seorang anak pada ayahnya. Ibu tidak begitu tahu latar belakangnya, namun Ibu ingat saat ayamu bilang bahwa dia merupakan teman minum yang menyenangkan, prajurit hebat, dan sahabat yang tak tergantikan.”

Ibu menghela nafas dalam-dalam dan mesti menenangkan diri, setelah sesenggukan beberapa kali, dia melanjutkan.

“Mereka menemukan anak malang itu bersama ayahmu –hanya mereka berdua- di sebuah gedung yang nampaknya telah dikepung musuh. Saat itu mereka sedang berpatroli, dan kemudian anggota tim tercerai berai saat baku tembak terjadi. Sebagian besar anggota tim ayahmu selamat, namun mereka berdua tidak terlalu beruntung …. Mereka ditemukan dalam posisi yang ganjil.” Ibu menelan ludah dengan susah payah. Sambil menatap lekat mataku, dia bicara “mereka menemukan tubuh anak itu di atas ayahmu, dalam keadaan penuh lubang bekas tembakan. Dia menjadi tameng hidup untuk ayahmu, sampai hingga detik terakhirnya. Dia bisa saja pergi, namun dia tak mau meninggalkan ayahmu yang sudah terluka.

Mendengarnya, tangis hebat kami berdua pecah. Love,.... Cinta. Itulah sosoknya sebenarnya, dia merupakan sosok pelindung. Tak seharusnya aku merasa takut padanya, dan aku rela melakukan segalanya untuk bisa mengucap maaf padanya, sekaligus mengatakan betapa aku juga menyayanginya. Kusadari bahwa aku tak berhak untuk melakukan semua hal buruk terhadapnya. Dan aku sadar betapa dia sangat menyayangi ayah hingga bahkan kematian pun tak mampu menghalanginya untuk memenuhi janji yang ia sebutkan dalam surat. Saat kutanyakan mengenai janji itu pada ibu, dia menatapku dengan mata yang basah.

"Janji itu dibuat di rumah ini saat mereka menyiapkan kamar untukmu. Ayahmu bilang- ‘Apapun yang terjadi, berjanjilah kau akan menjaga putriku."


(Diterjemahkan oleh : Inisial A)
Cerita ini hanyalah fiksi yang di ambil dari situs Creepypasta.com

Bumi Memang Tidak Bulat Sempurna


Nampak bahwa bumi yang terdiri dari daratan dan lautan digambarkan sebagai piringan yang di tepinya terdapat dinding es Antartika. Konon dinding ini tidak tertembus oleh siapa pun. Selanjutnya di atas piringan tersebut terdapat kubah langit yang tidak pula dapat ditembus oleh manusia. Menurut salah satu teori tersebut, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus itu, seluruh perjalanan antariksa termasuk pendaratan di bulan adalah kebohongan belaka (hoax). Teori ini berlanjut dengan mengemukakan adanya konspirasi raksasa yang mencekoki umat manusia sehingga meyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Namun pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas mengenai teori konspirasi. Saya hanya akan mengungkapkan keberatan-keberatan terhadap teori ini.

Keberatan pertama adalah mengapa penduduk di berbagai bagian bumi menyaksikan rasi bintang yang berbeda-beda. Jikalau benar bumi datar, maka masing-masing di antara mereka akan menyaksikan bintang atau rasi bintang yang sama. Andaikan bumi itu datar. Mengapa saya yang berdiam di Pulau Jawa tidak dapat menyaksikan bintang kutub (Polaris)? atau Mengapa setiap penduduk dibumi tidak mendapat jatah Gerhana yang sama?

Misalkah terdapat kubah yang di dalamnya terdapat beberapa orang. Orang-orang itu berdiri pada berbagai tempat di dasar kubah. Pada puncak kubah terdapat sebuah lampu. Maka di mana pun orang-orang itu berdiri, mereka akan dapat menyaksikan lampu tersebut. Lampu itu dapat kita umpamakan sebagai Bintang Kutub (Polaris). Namun pada kenyataannya, tidak semua orang dapat menyaksikan Polaris. Jadi tidak mungkin bumi berbentuk datar.

Sebagai tambahan, saat Laksamana Zhenghe dari Dinasti Ming mengadakan pelayaran pertamanya ke belahan bumi selatan, mereka mengalami kesulitan dengan rasi-rasi bintang yang ada untuk bernavigasi, karena gugusan-gugusan bintang sebagaimana disaksikan di selatan berbeda dengan utara. Baru setelah beberapa pelayaran berikutnya, mereka dapat menyesuaikan dengan hal tersebut dan membuat peta bintang belahan bumi selatan. Kesulitan lain yang mereka alami juga diakibatkan oleh tidak tampaknya Polaris di selatan, padahal para pelaut China menggunakannya sebagai pedoman navigasi.
Crhistoper Colombus berlayar dari Benua Eropa ke Timur. Beliau terus menuju ke Timur dan terus Ke arah Timur. Namun akhirnya beliau kembali lagi ke Benua Eropa. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu tidak mungkin hal itu terjadi jika bumi berbentuk seperti piring.
Jika kubah itu memang tidak dapat ditembus. Kenapa meteor bisa jatuh ke bumi?

Keberatan kedua, Seorang teman saya pernah tinggal di Jerman. Saya sempat bertanya tentang perubahan musim disana. Beliau menjawab; Saat musim dingin maka siang hari lebih pendek. Jam 08.00 pagi masih gelap dan jam 15.00 matahari sudah terbenam. Sebaliknya saat musim panas, matahari masih bersinar hingga pukul 22.00. Oleh karenanya, panjang siang dan malam hari berbeda-beda atau berubah-ubah tergantung musimnya. Dengan kata lain, matahari tidak terbit pada saat bersamaan di sepanjang tahun. Jikalau benar bumi berbentuk datar, hal ini tidak mungkin terjadi. Semua peristiwa alam ini membuktikan bahwa bumi berbentuk bulat dengan garis rotasi yang membentuk kemiringan relatif terhadap matahari. Apabila bumi datar, maka matahari akan terbit dan terbenam pada saat yang sama di sepanjang tahun.

Perubahan musim juga mustahil terjadi jika bumi datar. Pada kenyataannya, saat belahan bumi utara mengalami musim dingin, maka belahan bumi utara mengalami musim panas, dan begitu pula sebaliknya. Apabila bumi datar, maka hal tersebut tidak akan terjadi, karena seluruh permukaan bumi sepanjang tahun tidak akan mengalami perbedaan dalam penerimaan sinar matahari. Menurut teori bumi datar, maka matahari dan bulan sepanjang hari hanya melakukan gerak memutar-mutar saja di atas katulistiwa.

Apabila benar demikian, maka daerah kutub utara tidak akan pernah menyaksikan matahari terbenam sepanjang tahun. Namun pada kenyataannya, kutub utara mengalami malam hari selama enam bulan setiap tahunnya dan siang hari hari selama enam bulan berikutnya. Jadi, matahari tidak pernah terbenam selama enam bulan dan terbenam selama enam bulan lainnya. Ini kembali memperlihatkan bahwa bumi berbentuk bulat dengan garis rotasi membentuk kemiringan.

Penganut pandangan bumi datar menyatakan bahwa peristiwa terbit dan terbenamnya matahari adalah masalah pandangan perspektif saja. Mereka menyatakan bahwa terbenamnya matahari adalah laksana kereta api yang seolah-olah menghilang dari pandangan kita sewaktu bergerak menjauh akibat jaraknya sudah berada di luar jarak pandang kita. Karena jaraknya telah terlampau jauh, maka kita tidak melihatnya lagi. Sebagai tantangan bagi penganut pandangan bumi datar, maka saya persilakan mereka menggunakan teropong atau teleskop yang kuat guna melihat matahari saat di tempat mereka malam hari. Logikanya begini. Jikalau itu karena masalah jangkauan jarak pandang saja, manusia telah menemukan teropong atau teleskop guna memperluas jarak pandang mereka. Tentunya jika mereka meyakini bumi datar, saat malam hari matahari tentunya tidak terletak di balik belahan bumi mereka, sehingga dengan teropong atau teleskop yang kuat seharusnya masih tetap dapat terlihat.



Lalu bagaimanakah Al-Quran menjelaskan tentang bentuk bumi ? Mari simak ayat berikut mengenai silih bergantinya siang dan malam:


29. tidakkah kamu memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[Q.S. Luqman 31:29]

Di sini dapat disimpulkan bahwa malam secara perlahan dan bertahap berubah ke siang dan sebaliknya. Fenomena ini hanya dapat terjadi jika bumi bentuknya bulat.

Jika bumi itu datar, akan ada perubahan mendadak dari malam ke siang dan dari siang ke malam.

Dan ayat ini menyempurnakan bahwa Bumi tidak persis bulat seperti bola, tapi geo-spherical yang lonjong dibagian kutub. Ayat berikut berisi deskripsi bentuk bumi:


30. dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. [Q.S. An-Naziat 79:30]

Kata Arab “dakhaha”, disini jika menurut translasi Indonesia Depag artinya adalah “dihamparkan”. Namun, dilain sisi, ternyata kata arab “dakhaha“ juga bisa berarti telur burung unta (Duyyah). Yang mana bentuk telur burung unta menyerupai bentuk geo-spherical bumi.

telurburungunta.jpg

Bagaimana dengan arah kiblat? Jika bumi berbentuk bulat. Bukankah pandangan kita malah akan menghadap ke langit?


kesalahan-kiblat.jpg

Saya hanya sekedar meluruskan tentang bentuk gambar ilustrasi yang sedang Anda lihat mengenai arah Kiblat.
Karena bentuk Bumi itu bulat, anda jangan menggambar garis dengan penggaris/mistar lurus.

Sebab tarikan garis ketika Anda menggunakan arah mistar, maka garis itu akan keluar dari bentuk bulatan Bumi.

Dengan kata lain,.....jika Anda ingin membuat garis pada bumi/globe,...tariklah garis benang yang melingkari bentuk bulatan tersebut.

Sehingga jika Ka'bah itu sebagai pusat bumi,....maka garis-garis yang melingkar itu semua akan menuju kepada satu titik yang sama.....yaitu menuju ke Ka'bah.

Saya yakin, Anda pasti bisa membayangkan gambar garis-garis bulatan Bumi yang saya maksudkan.

Jika Anda masih sulit membayangkan apa yang saya terangkan,...ketika kita dulu sekolah di SMP dan SMA,...kita pernah diajarkan tentang garis-garis melingkar medan magnet,..demikianlah bentuk garis-garis tersebut.

Kenapa garis itu harus digambar melengkung sesuai dengan bentuk bumi yang bulat,....?
Sebab fisik kita berada pada bumi.

Dan keadaan ini adalah disebut dengan "Arah Ka'bah"/Jihat Ka'bah.
( sebab kita terletak jauh dari Ka'bah dengan bentuk bumi yang bulat.

3 Hal cara menghadap ke Ka'bah :

Penjelasan

Cara menghadap kiblat adalah sebagai berikut:

(1) Orang yang berada di Mekah dan memungkinkan untuk bisa menghadap Ka’bah, ia wajib menghadap ain Ka’bah sungguh-sungguh. ( selama jangkauan Ka'bah masih terlihat )

(2) Orang yang berada di lingkungan masjid Nabi di Madinah, wajib mengikuti Mihrab masjid itu; sebab Mihrab Masjid itu ditentukan oleh Wahyu, maka dengan sendirinya tepat menghadap ke Ka’bah.

(3) Orang yang jauh dari Ka’bah sah menghadap ke jihat/arah Ka’bah. ( sebab jangkauan Ka'bah sangat jauh dan karena bentuk bumi ini adalah bulat ).


Hal ini dikerjakan oleh umat Islam,....karena umat Islam mengikuti Perintah Allah SWT yang tertulis dalam Alquran.

(Al-Baqarah):144 - Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.


Hal ini adalah Perintah dari Allah.


Semoga Anda bisa memahaminya.

Five Nights At Freddy's (Episode 3)


Penulis: Scott Cawthon



"Kali ini saya pastikan telepon berfungsi. Semua kamera tidak rusak, dan semua Animatronic ada pada tempatnya. Saya sebenarnya sudah bosan menerima laporan bahwa mereka berjalan-jalan di malam hari. Mereka memang tidak punya 'modus malam'. Tapi mereka tidak akan berbuat sejauh itu,"

Hanya itu yang manajernya bilang. Membuat Jeremy pasrah akan pekerjaannya ini. Jam hampir memperlihatkan jarum jam yang menyatu jadi satu. Jam dua belas malam.

Namun Jeremy lagi-lagi melihat alat elekroniknya menampakan game yang berbeda malam ini. Kali ini Jeremy melihat karakter yang ia mainkan adalah Marionette. Makhluk hitam-putih yang menangis-tersenyum itu. Mau tak mau Jeremy menggerakan sang Marionette.

GIVE GIFTS.

Begitulah yang tertulis di pojok kanan atas dengan ciri khas game arcade. Di suatu ruangan, hanya ada Marionette dan empat buah entah apa itu berwarna abu-abu. Di tengah ruangan ada kado merah-putih. Tampaknya kado itu diletakkan di dekat empat makhluk entah-apa-itu yang berwarna abu-abu. Kado itu terus ada sampai ke empatnya mendapatkannya.

GIVE LIFE.

Tiba-tiba game berganti mode. Jeremy menatap heran, ia kira sudah selesai permainannya, ternyata belum. Jeremy awalnya bingung. Lalu ia menggerakan karakternya mendekati empat makhluk abu-abu, masih sama dengan game sebelumnya. Namun kali ini ketika mendekati satu makhluk abu-abu itu, kepala mereka berubah warna. Yang pertama berwarna ungu, persis seperti Bonnie.

Yang ke dua berwarna kuning seperti Chica. Ke tiga berwarna coklat seperti Freddy. Jeremy mengerutkan alisnya. Ia tahu kalau game ini seperti menunjukan sesuatu. Ia merasa karakter yang ia gerakan sangat lambat.

Yang terakhir berwarna merah, seperti Foxy.

Seketika itu juga kepala Golden Freddy muncul di layar, menutupi seluruh layar televisi. Benar-benar mengejutkan Jeremy, terlebih suara teriakan melengking dari televisi itu. "Whuaaah! Apaan itu!?" pekiknya.

Jeremy bersumpah, sebelum ia melihat kepala Golden Freddy yang kosong itu muncul di layarnya, ia melihat di tengah-tengah layarnya ada satu lagi makhluk abu-abu itu.

"Ada lima makhluk—tunggu, aku juga mendengar ejaan tadi," ingatnya. Jeremy mendengar jelas ejaan saat game berlangsung tadi. Hampir sama seperti game yang ia mainkan kemarin.

H-E-L-P T-H-E-M

"Menolong siapa?" Jeremy bergumam.

KRIIIIING

Jeremy terlonjak. Ia yang sedang asik-asiknya memikirkan apa yang menjadi misteri di restoran ini dan sembari memutarkan kotak musik itu terkejut mendengar deringan telepon. "Dia lagi, huh?" tebaknya.

Jeremy sedikit malas menerima pesan entah-dari-siapa-itu.

KRIIIIING

Jeremy menyeruput kopinya terlebih dahulu.

KRIIIING

Jeremy menerima pesannya.

"Hello, hello! Lihat? Sudah kubilang kau tidak akan memiliki masalah! Apakah... Uh... Apakah Foxy pernah muncul di lorong? Mungkin tidak. Saya hanya ingin tahu. Seperti yang saya katakan, dia selalu favorit saya. Mereka mencoba untuk membuat ulang Foxy, kau tahu? Uh, mereka pikir dia terlalu menakutkan, sehingga mereka di desain ulang, dia menjadi terlihat lebih ramah dan menempatkannya di Kid's Cove. Untuk menjaga anak kecil dan menghiburnya, kau tahu..."

"Tapi anak-anak zaman sekarang tidak bisa menjaga tangan mereka untuk diri mereka sendiri. Staf menempatkan Foxy kembali setelah setiap shift. Jadi akhirnya mereka berhenti mencoba dan meninggalkannya karena beberapa anak tetap 'membongkar dan memasang kembali' tubuhnya. Sekarang dia hanya tinggal beberpa bagian saja. Saya pikir karena itu karyawan menjulukinya sebagai 'The Mangle.' Uh ..."

"Kau tahu banyak, ya," Jeremy menghela nafasnya. "Tetap saja kami tidak tahu kau,"

"Oh, hey, sebelum aku pergi, uh, saya ingin meringankan pikiranmu mengenai rumor yang mungkin telah kau dengar akhir-akhir ini. Kau tahu bagaimana cerita-cerita lokal datang dan pergi dan kadang tidak berarti apa-apa. Saya pribadi dapat meyakinkan kau bahwa, apa pun yang terjadi di luar sana, dan bagaimanapun tragisnya mungkin, tidak ada hubungannya dengan apa yang kami dirikan. Hanya saja semua rumor serta spekulasi itu... orang yang mencoba untuk menghasilkan uang. Kau tahu…. Uh, penjaga pada siang hari telah melaporkan hal-hal yang tidak biasa. Dan dia menjaga sampai tutup."

"Oke, baiklah, bertahanlah di sana dan saya akan berbicara denganmu besok lagi,"

Jeremy menghela nafas sekali lagi. "Aku tidak begitu mengerti. Ya, sampai besok, pria-entah-siapa-dirimu,"

"Malam ke tiga, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan lagi. Semoga tidak terjadi apa-apa,"

Tidak bosan, Jeremy selalu melihat ruangan bernama Prize Corner dan memutarkan kotak musik itu. Selalu, setiap lima belas detik sekali. Jarinya pun sudah terbiasa, dan kecepatannya dalam menekan tombol-tombol patut diacungi jempol. Dia sanggup memeriksa sekeliling lalu memeriksa setiap ruangan dengan cepat.

"Hmmm, tidak ada apa-apa, hampir jam satu pagi, syukurlah,"

Jeremy menyeruput kopi hangatnya, selalu ia bawa dari rumah. Kali ini dia juga membawa obat sakit kepala. Ia tidak mau kehilangan fokusnya.

Jarinya menekan tombol senter, demi menyinari lorong di depannya.

"UHUK!"

Ia tersedak. Bukan, bukan karena di hadapannya ada Bonnie atau siapapun. Tidak ada apa-apa di depannya. Ia tersedak karena kopinya mengandung sesuatu. "Uhuk—"

Ia merogoh rongga mulutnya sendiri. Jarinya mencari benda yang menyangkut dalam mulut menuju tenggorokkannya. "Ugh—"

Matanya berair, ia merasa seperti ingin muntah namun tak bisa, ia ingin bangun dari tempat duduknya namun tak bisa. "Aghhhh! Uhuk!"

Jeremy mendapat benda yang menyumbat di antara mulut dan tenggorokkannya. Ia mengeluarkannya secara perlahan. Dan terlihatlah benda hitam berbentuk silinder, panjang, dan di dalamnya seperti ada serabut.

"Kh—kabel?"

Jeremy buru-buru melihat isi gelasnya. Cairan coklat pekat itu terlihat normal. "Dari mana kabel ini berasal?!" ia meletakan kabel yang sepanjang sekitar lima-tujuh sentimeter di atas mejanya. Matanya menangkap bayangan hitam dari atas. Jeremy tidak mau menengok keatasnya, tidak sebelum ia memakai topeng Freddy yang senantiasa menemani kerjanya.

Ia masih bisa melirik keatas, sedikit. Kabel yang menjuntai membelai topengnya. Suara mesin yang aneh menderu pelan. Ruangan menjadi redup seketika.

'Mangle!? Sejak kapan ia ada di sini!?' Jeremy mengumpat dalam hatinya. Ia lengah, namun Mangle tidak berlama-lama ada di kantornya. Mungkin karena Jeremy dengan cepat memakai topeng penyelamat hidupnya itu. Atau Mangle hanya mempermainkannya?

"Aduh! Kotak musiknya—"

Jeremy membeku. Lagi-lagi ia melihat Marionette, kepalanya menyembul keluar dengan menawannya. Senyumnya tak pernah absen dari wajahnya. Jeremy sigap memutarkan lagu kesayangan sang Puppet. Tak lupa ia melihat ruangan lainnya. Semua Animatronic masih pada tempatnya. Jeremy bernafas lega, terlebih Marionette kembali tidur di dalam kotaknya.

.

.

.

Jam tiga pagi. Jeremy heran, ia hanya diganggu oleh Mangle saja. Yang lain masih pada tempatnya—walau terkadang ada saja yang jalan. Namun tidak mendekati kantornya.

"Ahahahah!"

"Suara ketawa itu—" Jeremy menyalakan lampu pada ventilasi kanan, tidak ada apa-apa.

Jarinya menekan lampu bagian kiri ventilasi. Wajah sumringah dari robot berbentuk anak kecil muncul. Mata birunya berbinar, pipi bulat merah merona memberi kesan lucu. Tapi, sesungguhnya dia sama sekali tidak lucu. Jeremy yakin di balik wajah bahagianya itu, Balloon Boy termasuk Animatronic yang berbahaya.

Reflek Jeremy sangat bagus. Ketika ia melihat wajah sumringah dari robot itu, ia tanpa basa-basi memakai topeng Freddy. Balloon Boy memang tidak terlalu suka berkeliaran, karena tugasnya memberikan balon kepada anak-anak. Tapi, karena insting Jeremy mengatakan bahwa BB cukup berbahaya, Jeremy tidak bisa menolak untuk melindungi dirinya sendiri.

Tidak terlalu lama untuk menunggu BB pulang ke tempat asalnya. Tak ingin nyawanya terancam lagi, Jeremy buru-buru memutarkan kotak musik itu.

IT'S ME

Lagi-lagi, bayangan itu muncul. Membuat kepala Jeremy merasa sakit. Sebelum ia meraih obatnya, ia memastikan bahwa sekitarnya aman. "Uh, lagi-lagi seperti ini,"

Jeremy terpaksa meminum obat yang ia bawa. Lalu kembali beraktivitas seperti biasa, walau sakit kepalanya tidak langsung hilang tentunya.

'Hi!'

Suara anak kecil menggema sekali lagi. Jeremy menyorot sekelilingnya, termasuk lorong di depannya. Nafasnya tercekat.

"Foxy?"

Makhluk merah itu berdiri di ujung lorong. Kepalanya menunduk, namun eyepatch hitamnya tak dapat disembunyikan. Begitu juga dengan hook di tangan kanan sang rubah besi. Jeremy tentu mengikuti saran dari pria-entah-siapa-itu.

"Uh, okay. Mereka mulai bergerak,"

Foxy memang sudah menghilang dari hadapan Jeremy. Namun saat setelah memutar musik dan melihat bagian Parts and Service Room. Mata Jeremy berkedip, melihat yang duduk di sana bukanlah Bonnie. Walau warnanya masih senada dengan Bonnie, tapi ia lebih gelap. Kepalanya dihiasi topi hitam kecil.

"Eh? Siapa dia? Freddy? Tapi, kok hitam-keunguan?" Jeremy bergidik dan langsung mengganti kamera ke bagian panggung.

Tiga Animatronic sang penguasa panggung, hilang. Tiga-tiganya.

"APA?!" Jeremy tidak bisa menahan paniknya. Ia gusar, memeriksa seluruh ruangan. Walau ia menemukan Toy Chica yang sedang ada di ruangan pesta ke empat. Tersenyum kearah kamera sambil membawa cup cake sepeti biasa. Namun matanya berwarna hitam pekat, dan paruhnya tidak ada.

"Paruhnya ke mana?" Jeremy tahu pertanyaan itu sangat tidak penting sekarang, yang ia tahu pasti bahwa teror terjadi lagi. Dia sudah tidak kaget lagi dengan kursi yang melarangnya pergi, dan sudah tidak asing lagi dengan suara maupun aura ganjil di sekitarnya.

Toy Bonnie datang, Jeremy bertahan di dalam topengnya. Toy Chica datang, Jeremy masih bisa bertahan dan tetap bisa memutarkan musik hanya untuk Marionette yang harus tidur nyenyak.

Jeremy sangat tidak suka di saat lampu yang menyinari kantornya itu meredup. Tepat di depannya ada tubuh besar ungu yang tak memiliki wajah, hanya rahang dan giginya terlihat jelas. Dia sangat amat tidak suka melihat kepala Bonnie, seakan ia melihat mimpi paling buruk dalam hidupnya.

Para Animatronic datang silih berganti. Membuat Jeremy beranggapan bahwa mereka semua mencoba untuk mengganggunya supaya tidak sempat memutarkan musik di ruang Prize Corner. Dan ia sering mendengar suara static saat Mangle muncul seakan mengatakan; TEN ONE. Jeremy tidak tahu apa maksudnya itu. Jeremy masih bisa bertahan, selama topeng Freddy ada padanya. Dan semuanya masih bisa ia kontrol, memutar musik dan bersembunyi di balik topeng.

Satu jam penuh Jeremy di teror, tidak ada waktu untuk memperdulikan kepalanya yang mulai terasa pusing lagi. Tidak ada waktu untuk menuangkan kopi barunya dalam gelas. "Jam empat pagi dan mereka semakin aktif," gumam Jeremy sangat pelan dari balik topengnya. Nafasnya justru lebih terdengar dari kata-katanya barusan.

Dia sedang berhadapan dengan Freddy. Perut buncit berwarna coklat itu terlihat dari lubang mata topengnya. Kalau saja Jeremy bisa berdiri, mungkin ia akan melawan Animatronic itu, jika ia bisa.

Lampu kembali terang, menandakan Animatronic itu pergi. Jeremy juga sedikit heran, apa mereka mengacaukan sistem listrik sehingga lampu dapat meredup ketika mereka datang? Anggap saja iya.

'Hello!'

Lagi-lagi, suara anak kecil menyapanya. BB bersuara, tapi belum tentu yang muncul adalah BB itu sendiri. Sudah keberapa kalinya ia mendengar suara BB namun yang ada di lorong maupun ventilasi bukanlah BB. Bisa saja ada Foxy, Bonnie, maupun yang lain.

"A-aduh-duh!" Jeremy bergidik, tak bisa di tahan bulu romanya berdiri. Bahkan sampai bulu di tangannya ikut berdiri.

Baru kali ini Jeremy merasakan seperti ini, dalam karirnya. Ia mendapat panggilan alam yang tak terduga. Sungguh hal yang tak terduga ini yang di benci Jeremy. "Si-siaaaal!" umpatnya. Kalau saja kursi ini dapat ia bawa walaupun menempel pada bokongnya. Panggilan alam ini sangatlah mengganggu konsentrasinya.

"Ce—cepatlah jam enam pagi!" erangnya menahan hasrat ingin buang air kecil. Diduga Jeremy terlalu banyak minum. Bagaimana tidak, ia harus meminum obat sakit kepala dan meminum kopi.

Tangan Jeremy semakin cekatan, antara memutar musik, melihat ruangan, dan melihat sekelilingnya. Keringat dingin menyelubungi kulitnya, dari kepala sampai ujung kakinya. Rasanya tersiksa untuk menahan, namun jika ia keluarkan disini juga, dia pasti menanggung malu.

Hawa dingin dari cuaca pagi buta dan kipas angin menambah bulu romanya berdiri, bergidik—menggigil karena menahan rasa ingin membuang air kecil.

"Argh!" Jeremy mematikan kipas angin di depannya. Ia tidak mau semakin 'menggigil'. Detik demi detik Jeremy lewati terasa lebih lama. Tapi, syukurlah ia masih bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaannya.

Sempat Jeremy berpikir besok ia akan membawa botol atau tempat khusus, sehingga kejadian seperti ini tidak akan menghalanginya bekerja. Tapi pikiran itu segera ditangkisnya, besok ia berencana tidak akan duduk di kursi aneh ini lagi.

.

.

.

"Kau terlihat… tidak sehat, kenapa?" Manajer menepuk bahu Jeremy, anak buahnya yang satu itu terlihat lesu, urakan dan juga kantung mata yang menghiasi bagian bawah matanya.

"Ehm, mereka semakin aktif di malam hari. Dan kursi itu membuatku tidak bisa bergerak leluasa, Pak. Aku tidak bohong dan juga berhalusinasi. Aku tidak pernah memakai obat terlarang juga," Jeremy tertunduk lesu.

Manajer merasa iba, sangat iba. "Baiklah, terserah kau jika masih ingin bekerja di sini atau tidak. Kalau masih mau bekerja, besok datang lebih awal dan langsung menemuiku,"

.

.

.

HELP THEM

SAVE THEM

SAVE HIM

SAVE—

YOU CAN'T

IT'S ME

"Hhhhaaaahhh!"

Jeremy terbangun dari mimpi anehnya. Nafasnya sesak, badannya mengeluarkan bulir-bulir keringat di pelipisnya. Mimpinya terasa seperti nyata. Jeremy seakan berada di dalam tubuh Freddy, di panggung bersama Chica dan Bonnie. Kata-kata itu terus terngiang. Panggung yang ia mimpikan berbeda dengan panggung di mana ia bekerja. Seakan dia itu Freddy.

"Mimpi… tadi?"

Jeremy menutup matanya, menenangkan dirinya. Ia sangat ingat, pandangan dirinya seperti sedang memakai topeng Freddy namun ia berada di panggung, bukan kantornya. Bonnie memiliki wajah utuh juga tangannya, sedangkan Chica masih bagus, tangan juga utuh. Awalnya mereka berdua menghadap kearah meja yang terjejer rapih dengan topi pesta berbentuk kerucut yang berbaris di atasnya.

Namun lama kelamaan, Bonnie dan Chica menggerakan kepalanya. Melirik kearah Jeremy yang berada di dalam tubuh Freddy. Semakin lama, Bonnie dan Chica benar-benar menatap kearah Jeremy. Tatapan mereka seperti tatapan tidak suka dan kesal, walau temaram dan tak dapat melihat langsung ke dalam mata Endoskeleton itu. Tak lama kepala Marionette melayang di antara mata Jeremy—yang memakai topeng tentunya.

Seketika itu Jeremy merasa sesak dan terbangun dari mimpinya.

.

"Jadi, kau masih ingin bekerja di sini?"

Jeremy mengangguk mantap. "Ya,"

"Kenapa? Setelah semua yang kau hadapi, kau masih bisa bertahan, aku salut. Tapi, ini bisa menyangkut nyawamu sejujurnya," sang manajer menatap serius.

"Ah, ya. Mungkin? Firasatku mengatakan mereka berbahaya. Tapi saat siang hari dan melayani anak kecil, mereka terlihat biasa-biasa saja. Karena itu saya penasaran,"

"Karena itu. Sebenarnya, ada beberapa hal yang belum kuberi tahu padamu,"

Jeremy mendengarkan seksama.

"Kau pasti sudah dengar insiden yang pernah terjadi di restoran sebelumnya. Dan mengenai orang yang memberimu pesan dan arahan di telepon," manajer berhenti sejenak.

"Kurasa itu adalah pegawai lama di restoran sebelum ini. Aku tidak tahu persis. Saat aku kecil, restoran ini bernama Fred Bear's Family Diner. Lalu ditutup karena suatu insiden juga, dan beberapa tahun kemudian mereka membuka lagi, Freddy Fazbear's Pizza. Dan insiden lima anak kecil menghilang dalam restoran itu yang paling sering terdengar,"

Jeremy mengangguk pelan. "Ya, aku pernah dengar insiden lima anak menghilang itu,"

"Ya, karena itu restoran yang sudah dipegang oleh orang lain itu harus ditutup. Dan sekarang, kami membuka lagi. Namun pemiliknya telah berganti. Karena itu, aku tidak terlalu tahu tentang pekerja lama yang sudah berpengalaman menghadapi Animatronic itu,"

"Kami menjunjung tinggi keselamatan para pekerja juga para konsumen. Jadi, kutawarkan sekali lagi. Apa kau masih ingin kerja di sini?"

"Ya!" Jeremy menjawab dengan mantap. "Kenapa?" tanya manajer sekali lagi.

"Karena teror itu seperti menyampaikan sesuatu padaku. Setiap sebelum jam kerja dimulai, televisi itu memainkan game yang berbeda lagi, Pak. Dan pria yang memberi pesan itu selalu bilang sampai besok lagi. Dan selalu meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama aku mengikuti apa katanya,"

"Hm, baiklah jika itu maumu,"

"Ehm, satu lagi, Pak. Teleponnya mati lagi,"

Kisah Disturbing Sang Driver Ojek Online

Nama saya Udin. Saya adalah seorang driver dari sebuah perusahaan ojek Online ternama diindonesia.
Hari ini saya ingin menceritakan pengalama saya selama saya menjalani profesi ini. Sebelumnya, saya ingin memperingatkan, kalau kisah yang akan saya ceritakan ini mungkin saja terasa menjijikan. Jadi saya minta siapapun yang tidak tahan terhadap hal-hal yang menjijikan, silahkan untuk tidak membaca kisah ini. Oke, saya akan mulai sekarang...

Saya memacu Motor menuju Titik Penjemputan di Rumah Sakit Cengkareng.
"Ibu Siti yah..?" Tanyaku pada Ibu didepan Pintu Keluar Rumah Sakit Cengkareng.
"Eh.. iya Betul, Bang Udin dari Ojek Online yah..?" Dia balik Bertanya.
"Betul Bu, Tujuan Ke Bidara Cina yah Bu." Ujarku sambil menyerahkan Helm padanya.
"Iya Bang, Tolong Saya Titip Kantong ini di Depan yah Bang." Si Ibu mencantolkan Kresek Plastik Hitam di Cantolan depan Motorku.
"Oh.. iya Bu, Silahkan."

Beberapa lama kemudian, kami sampai ditujuan. Setelah menunrunkan Bu Siti tepat di depan tujuan. Saya pun langsung kembali ke Basecamp. Sesampainya di Basecamp saya baru sadar, kalu kantung plastik yang dibawa Bu Siti masih tercantol di depan motorku.

"Wan.. Costomer Gue Barusan Kelupaan Bawaannya, pas Gue Liat isinya Daging, Bagai mana yah Wan..?" Tanyaku pada Wawan Suwarman di Basecamp.
"Masih Bagus ga tuh Dagingnya Bang..?" Balik bertanya Wawan.
"Kayanya sih Masih Seger Wan, Darahnya aja belom Beku." Jawabku sambil membuka Kantong dan memperlihatkan isinya pada Wawan.
"Wah.. di Sate enak nih.." Berkata Toyip sambil merogoh isi Kantong Plastik.
"Mau Gue Pulangin, Jauh Banget di Bidara Cina, Orangnya juga ga Nelpon ato Sms Gue, jadi Bingung nih Gue."
"Udah ga usah Bingung Bang, Kita Sate aja di Mari, ga bakal tuh Orang Marah, paling Rating Loe Turun, hehehe." Timpal Wawan dengan Wajah Penuh Harap.
"Hmmm, ya udah Terserah Loe deh, Gue mau Pulang Tidur dulu, Mata Gue sepet Ngantuk, semalem abis Ngalong Gue." Kataku sambil menyerahkan Kantong Plastik pada Wawan.


Beberapa lama kemudian saya bergegas kembali ke Basecamp.

"Wan..... Wan.... Kemanain tuh Daging...?" Aku Berteriak sambil Lari Kearah Basecamp.
"Tenang Bang, Masih Gue sisain, Tuh Masih ada Lima Tusuk lagi." Ujar Wawan Menunjuk Lima Tusuk Sate yang sudah di beri Bumbu di Piring.
"Enak Banget Dagingnya Din, Sering-sering aja ada Costomer ketinggalan Bawaan Dagingnya yah Din, hehehe." Toyib menimpali.
"Wadoooh, Loe Gila ye, Nih Baca Sms dari Costomer yang Bawaannya Ketinggalan Barusan." Ujarku Sambil menyerahkan Handphonku pada Wawan Sumarwan.
Wawan Langsung Muntah-muntah Sedang Toyib Pingsan Seketika, Begitu Mereka membaca Sms di Handphon Saya.


Five Nights At Freddy's (Episode 2)




Penulis: Scott Cawthon


"Jadi kau seperti diganggu hantu begitu?"

"Ya! Uh—bukan maksudku untuk berhenti bekerja. Aku ingin bekerja di sini tapi, apa para teknisi tidak membetulkan mereka?"

Jeremy sengaja belum pulang dari apa yang terjadi malam sampai pagi ini tadi. Ia mendatangi ruangan Manajer itu.

"Ehm. Maaf, para teknisi itu sedang tidak ada di kota ini. Jadi kami juga belum bisa mengatasi masalah ini. Pekerja sebelum kau juga memproteskan hal yang sama, dan dia ada di shift siang hari,"

"Ya, aku sudah dengar tentangnya," aku Jeremy.

"Huh? Dari siapa? Aku belum menceritakannya padamu," Manajer memasang ekspresi heran.

"Dari orang yang mungkin bekerja di sini sebelum orang yang pindah shift itu. Semalam ada rekaman yang masuk,"

Manajer terdiam, alisnya menukik tajam seperti tanjakan empat puluh lima derajat. "Apa? Rekaman? Orang sebelum pekerja shift siang, katamu?"

Jeremy mengangguk mantap. "Dengar, Jeremy. Telepon kami rusak, tidak bisa menerima maupun melakukan apa-apa,"

"Y-ya aku tahu, tapi tadi malam bukan halusinasi—"

"Dan tidak ada yang kerja malam selain orang sebelum kau,"

Jeremy terhenti, kini ia yang memasang ekspresi heran yang lebih heran dari biasanya. "Ehm, maaf. Apa maksud Pak Manajer?"

"Selama kami buka, hanya kau dan dia yang pernah menjaga malam di restoran ini. Tidak ada yang lain,"

"Lalu siapa dia, Pak? Pesannya tidak dapat diulang dan langsung terhapus setelah dimainkan," Jeremy memijit pelipisnya, ia merasa dipusingkan dalam hal ini.

"Kalau dia bukan penjaga malam, lalu siapa lagi? Dia sepertinya tahu benar dan mengarahkanku, memberiku saran, seperti seorang senior," lanjut Jeremy.

"Pekerja malam yang sudah berganti shift tidak mengatakan apa-apa soal rekaman, dia sudah datang, panggilkan saja dia dan tanyakan,"

.

.

.

"Kau tahu, tidak ada rekaman apapun pada malam pertamaku. Memang benar aku melewati malam pertama dan baik-baik saja. Tapi mereka berkeliaran seperti di siang hari! Aku lebih menjaga siang hari tentunya. Yang datang pertama kali ke tempatku adalah Marionette itu. Dia berdiri sendirian di depan lorong dan mengamatiku sampai pagi, aku tidak tahu kenapa. Dan jam enam tiba dia menghilang,"

"Tapi—" Jeremy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Karena itu aku pindah shift. Aku harus bekerja dulu, bye!"

"Jadi, kau mau berhenti bekerja atau melanjutkannya? Tentu tetap berjaga malam," tawar Manajer seletah mendengar semuanya.

"Uh, ehm." Jeremy memutar otaknya. Untung saja hari ini tidak ada jadwal kuliah jadi ia bisa istirahat sepuasnya. "Baiklah, aku coba bertahan," gumamnya terdengar oleh Manajernya. "Kami perbaiki teleponnya hari ini, malam nanti sudah bisa kau gunakan. Jika ada apa-apa telepon saja,"

.

.

.

"Hay, Jeremy! Selamat menikmati hari ke duamu di sini,"

Waiter itu lagi-lagi menyapanya lalu pergi, ditambah senyuman yang janggal menurut Jeremy. Dia tidak tahu nama sang waiter, jadi ia memilih untuk diam tak menanggapinya. Jeremy sudah datang dari jam sepuluh malam. Ia terlalu kenyang beristirahat di rumah sementaranya. Jadi ia putuskan untuk berangkat kerja lebih awal.

Tidak mau terulang, ia membawa kopi yang sudah diseduh dalam termos cukup besar. Nantinya ia tinggal tuang ke dalam gelas plastik di kantornya. "Malam kedua! Aku siap!"

.

.

.

Jam menunjukan pukul sebelas malam lebih, tentu semua karyawan belum pulang. Tapi Jeremy sudah duduk manis di kantornya.

"Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini," doanya lalu melihat layar televisi khususnya. Jari Jeremy menekan tombol yang akan menunjukan ruang Prize Corner.

Gelap. Layar tidak memunculkan apa-apa selain warna hitam pekat.

"Loh? Rusak?"

Tiba-tiba layar memunculkan pixel-pixel berwarna-warni membentuk sepeti ruangan dengan seisi perabotannya. Mirip ruangan pesta di restoran ini namun dalam bentu pixel seperti game arcade.

"Ha? Game-kah?" Jeremy terheran-heran. Ia menekan tombol kecil pada samping televisi. Empat tombol yang ia tekan membuat salah satu gambar berjalan. Gambar yang berjalan itu nampak seperti beruang berwarna kuning membawa seperti mic di tangannya, tangan kanannya.

"….. Jangan-jangan. Ini beruang yang kulihat kemarin," Jeremy sebenarnya ragu namun ia tetap memainkannya. Ia mendengar suara dari alat elekrtonik di hadapannya itu setiap karakternya berjalan, dan ia melihat ada karakter lain, seperti melayang dan berwarna hitam, berkepala putih.

"…. Apa itu Marionette? Tempat ini pernah membuat game sendiri? Apa untuk anak-anak?"

Pertanyaan yang tidak terjawab dari Jeremy, ia mau tak mau meneruskan game yang mendadak muncul itu.

Jeremy sadar kalau ia harus mengikuti karakter lain yang berwarna hitam itu, namun tiba-tiba muncul satu karakter lagi berwarna ungu, di dadanya ada warna kuning, dan tangannya yang aneh.

"Huh?"

Karakter yang Jeremy mainkan terhalang makhluk ungu yang berbentuk seperti manusia dalam pixel itu. Lalu layar menghitam kembali dan terdapat garis-garis biru berjalan cepat. Jeremy sempat membaca huruf pixel yang ada di pojok kiri layar di bagian bawah.

YOU CAN'T

"Eh? Game over? Apanya yang tidak bisa—"

Jeremy tersentak.

Ia ingat setiap karakternya berjalan, ada suara seperti mengeja. Ia mengingat ejaan tersebut.

S-A-V-E T-H-E-M

"Save them? You can't? Apa maksudnya?" Jeremy terdiam sebentar. "Mungkin itu kata lain dari Game over. Ups! Sudah jam dua belas malam. Manajer sudah pulang, besok aku akan tanyakan game ini,"

.

.

.

KRIIING

Jeremy tidak terkejut, namun ia hanya melirik kearah telepon itu dan melihat LED menyala warna hijau, bertanda itu adalah pesan.

"Huh? Dari siapa?"

KRIIIING

KRIIIING

Jeremy terpaksa menerimanya lagi.

"Ah…. Hallo, hallo! Uh, hey, sudah saya katakan malam pertamamu tidak akan menjadi masalah. Kau hebat!"

Jeremy entah kenapa justru sedikit kesal mendengar suara ini lagi. Dia pria-yang-entah-siapa-itu kembali menerornya lewat pesan. Seandainya saja Jeremy punya alat untuk kembali merekam apa yang terjadi hari ini, sayangnya di kantornya ini tidak ada kamera pengintai seperti tempat lainnya.

"Uh, sekarang saya yakin kau telah melihat para Animatronic lama duduk di ruang belakang. Uh, mereka itu dari restoran sebelumnya. Kami hanya menggunakannya untuk bagian sekarang. Ide awalnya adalah untuk memperbaiki mereka... Uh, para teknisi bahkan mulai menyesuaikan mereka dengan beberapa teknologi baru, tapi mereka hanya begitu jelek, kau tahu?"

Jeremy mendengus kesal. "Yah, terserah apa katamu,"

"Baunya... Uh, sehingga perusahaan memutuskan untuk membuat yang baru, dengan wajah yang lebih ramah. Uh, mereka yang lebih tua tidak seharusnya mampu untuk berjalan-jalan, tetapi jika mereka seperti itu, trik memakai kepala Freddy yang kosong dapat mengelabui mereka juga, jadi, ya, begitulah,"

Jeremy memutar bola matanya kesal. "Ya, ya, ya," komentarnya.

"Uh... Heh... Aku menyukai para karakter lama. Apakah kau pernah melihat Foxy si bajak laut? Oh, tunggu, tunggu…. Oh yeah, Foxy. Uh, hei dengarlah, dia itu agak gugup,"

"Seperti kau, Tuan entah-siapa-dirimu," celetuk Jeremy.

"Uh... Aku tidak yakin kalau trik memakai kepala Freddy yang kosong itu akan berpengaruh pada Foxy, uh. Jika karena alasan tertentu ia aktif pada malam hari dan kau melihat dia berdiri di ujung lorong, sorot saja menggunakan senter kearahnya dari waktu ke waktu. Animatronic yang lebih tua selalu bingung dengan lampu terang. Dan itu akan menyebabkan restart sistem, atau sesuatu. Uh, kalau dipikir-pikir, kau mungkin ingin mencoba pada setiap ruangan di mana sesuatu yang tidak diinginkan mungkin. Mungkin menahan mereka di tempat selama beberapa detik. Mungkin berlaku juga untuk Animatronic baru,"

"Terima kasih atas sarannya," Jeremy mendengus kesal lagi.

"Satu hal lagi, jangan lupa kotak musik. Jujur saja, saya tidak pernah menyukai Marionette itu. Dia selalu... berpikir, dan bisa pergi ke mana saja... Menurutku topeng Freddy tidak akan bisa menipunya, jadi jangan lupa kotak musiknya. Pokoknya, aku yakin malam ini tidak akan menjadi masalah. Uh, selamat malam, dan berbicara lagi denganmu besok,"

"Besok? Okay! Aku akan membawa orang lain untuk menjadi saksi!" Jeremy rupanya kesal karena tidak ada yang kenal dengan orang yang memberikan pesan ini. Terlebih Manajernya tidak tahu siapa dia—yang memberi pesan itu.

Satu jam berlalu, Jeremy sudah terbiasa dan hapal detik kapan ia harus memutar kotak musik itu, dan kapan ia harus mengecek yang lain.

Jeremy menyeruput kopinya yang sudah ia tuangkan dalam gelas sembari mengecek satu persatu ruangan.

Parts and Service Room.

Jeremy hampir tersedak kopi yang ia minum setelah melihat ruangan ini dari kameranya. Ia tidak melihat apa-apa di ruangan itu. Yang berarti Bonnie yang seharusnya terlihat paling jelas di situ, telah menghilang.

"Astaga, ke mana dia!?" Jeremy memeriksa ruangan lainnya. Jeremy menemukan sosok Bonnie berada di Main Hall dekat dengan ruangan pesta ke empat. Jeremy meneguk saliva-nya sendiri.

"Hiiy!"

Jeremy bergidik saat melihat Kid's Cove, terlihat jelas Mangle sedang menggantung di sana. Ia yang tak punya badan, kenapa bisa berjalan—lebih tepatnya menggantung seperti itu? Seharusnya dia ada di ruangan yang sama dengan Animatronic lama!

Kabel yang menggantung dari tubuh abstraknya itu, terlebih matanya yang menatap ke arah kamera, membuat Jeremy memutuskan untuk kembali melihat Prize Corner dan memutar musik lagi.

"Mereka bergerak, uh, sial!" umpat Jeremy sambil menyalakan senternya untuk memastikan sekitarnya aman.

Kembali lagi ke Parts and Service Room, bukan ke laptop, belum lahir laptop pada tahun 1987 ini. Jeremy melihat Chica, tepat di ruangan itu. Dan ia mencari sosok Bonnie yang ternyata sudah pindah dari tempatnya yang tadi berada di Main Hall.

Jeremy buru-buru menyalakan senternya mengarah lorong di depannya. Seketika itu juga Jeremy menahan nafas dan memandangi sosok jauh di sana. Warna Lavender-nya samar-samar. Bonnie ada di hadapannya, memang jauh tapi tetap saja menyeramkan.

Jeremy melirik televisinya, lalu menekan tombol untuk memutarkan musik. Untung ia masih ingat kotak musik itu dan saran dari entah-siapa-dia. Jeremy masih waspada dengan makhluk ungu di ujung lorong sana.

Seandainya ia bisa pergi dari sini, sudah ia lakukan semenjak Bonnie menghilang. Manajer pernah bilang, untuk tidak pergi sebelum jam kerja selesai. Terlebih kursi ini dengan ajaibnya seperti mengunci Jeremy, pria itu tak bisa ke mana-mana.

"Baiklah, kau bisa lakukan ini, Jeremy!" ia menyemangati dirinya sendiri, tentu karena ia sendirian di restoran ini.

Ia menyinari lorong laknat itu lagi, tidak ada apa-apa. Tak lupa melihat samping kiri dan kanan ventilasi didekatnya. Tidak ada yang mencurigakan. Jeremy tidak bosan-bosannya memutar My Grandfather's Clock di Prize Corner.

Satu jam berlalu lagi, kini angka dua di tunjuk oleh jarum jam yang lebih kecil. Jeremy sesekali membuka mulutnya, melepaskan karbon dioksida dari dalam tubuhnya melalu mulut.

'Hi!'

Matanya terbelalak, tak salah lagi kupingnya mendengar suara sapaan menggema dari sudut ruangan ini, seperti suara anak kecil. Jeremy langsung memasukkan kepalanya ke dalam topeng Freddy yang siap sedia di sampingnya. Di dalam topeng itu, jarak pandang dan pergerakan Jeremy terbatas.

Jeremy tidak dapat menyinari lorong di depannya ketika memakai topeng itu, dan jarak pandang Jeremy tidak luas. Jeremy merasakan ada yang datang.

"Hhh…. Hhhahhh…" nafasnya memburu. Iya yakin suara sapaan itu dekat sekali dengannya. Seketika itu lampu dalam kantornya meredup. Mata Jeremy dapat melihat sesuatu, dari ke dua lubang topeng Freddy.

Badan yang besar, seungu bunga Lavender. Tangan kirinya tidak ada, hanya ada kabel yang menjuntai tak karuan, cara berdirinya yang seperti waria. Jeremy tidak akan menyangka kalau Bonnie ada di depannya sekarang, detik ini juga.

Wajah Bonnie tidak ada, memang. Namun Jeremy dapat merasakan kalau Bonnie sedang menatapnya, sepasang LED merah dari dalam kegelapan kepalanya itu membuat bulu kuduk Jeremy menegang.

Jeremy menutup matanya, berharap ini hanya mimpi. "Fuuuuh," ia hembuskan nafasnya pelan. Seketika itu ruangan kembali terang dan Bonnie tidak ada di hadapannya saat Jeremy memberanikan diri membuka matanya. Ia dengan cekatan melepas topeng Freddy.

Jeremy langsung menekan lagi tombol untuk memainkan musik di ruangan khusus itu. Dan sekalian melihat ruangan lainnya. Mengecek bagian dalam ventilasi kiri-kanannya. Lalu mengecek ruangan yang selalu terdapat pergerakan dari mereka; Parts and Service Room.

Tidak ada yang berubah, Bonnie sudah duduk di tempat semula. Jeremy melihat ruangan lainnya, yaitu kamera yang menyorot kearah panggung. Satu dari tiga Animatronic itu menghilang.

"Sial—Toy Chica, di mana dia?"

Jeremy untung masih sempat memutarkan musik untuk sang Marionette lalu kembali mencari Chica. Dan setiap ada Animatronic yang hilang atau ada bunyi-bunyi mencurigakan, Jeremy dengan sigap menyinari atau langsung memakai topeng Freddynya.

Ia bertahan dari teror yang dibuat Animatronic. Jeremy merasa mereka sangat berbahaya, instingnya merasa demikian. Ia ingat kalau pria yang memberinya pesan telah mengatakan; 'sesuatu' tentang robot melihatmu sebagai Endoskeleton tanpa kostum, dan ingin menjejalkanmu ke dalamnya.

'SESUATU' dan MENJEJALKAN, Jeremy mencerna kalimat itu matang-matang. Dalam arti para Animatronic ini seperti mesin pembunuh saat malam. Tidak untuk siang hari. Jeremy sadar, ini adalah pekerjaan terburuk di dunia. Digaji kecil, taruhan nyawa, tidak ada jaminan, dan terakhir untuk menjaga supaya mereka tidak keluar restoran, mungkin.

Bayangkan saja kalau tidak dijaga. Mereka akan keluar, berjalan-jalan di tengah kota. Membuat teror yang lebih parah. Jeremy tidak tahu harus sedih atau justru ingin menghancurkan para Animatronic ini. Jeremy pun tak kuasa, ia baru dua hari bekerja di sini. Dan sudah mendapat ujian yang luar biasa di luar khayalan manusia manapun.

Satu jam yang mencekam ia lewati. Masih ada tiga jam lagi dan ia harus melaporkannya pada Manajer. "Mereka semakin aktif—ugh!"

Jeremy melindungi dirinya sendiri dari sosok biru muda yang tersenyum manis. Pipinya merona merah, mata besar dan dihiasi bulu mata plastik itu. Penampilan mereka benar-benar menipu. Toy Bonnie berjalan secara horizontal di hadapan Jeremy. Seakan ia mencari sisi lemah Jeremy.

Tidak hanya Toy Bonnie, terkadang Mangle muncul di lorongnya. Membuat Jeremy ingin sekali berteriak meminta pertolongan.

Pertolongan? Percayalah, Jeremy sudah mencoba menelepon Manajer maupun temannya. Telepon itu tidak berfungsi sama sekali.

Demi apapun, Jeremy membenci suara anak kecil yang menyapanya sedari tadi, terkadang tertawa sekali. Suaranya jelas jika Balloon Boy itu muncul di ventilasi bagian kiri.

Malam ini Jeremy seperti sedang lari marathon selama dua puluh delapan jam. Tapi, rambut maupun kondisi badannya tidak sebagus yang iklan tampakkan. Jeremy seperti mandi keringat dingin. Ia bersyukur juga kalau para Animatronic tidak punya indra penciuman seperti anjing. Hanya punya pendeteksi entah apa itu seperti yang dibicarakan oleh pria misterius yang mengoceh dari telepon.

Tak terasa kalau satu jam lain telah berlalu. Jeremy masih punya dua jam ke depan untuk bertahan. Yang membuat tak terasa adalah untuk memutar kotak musik itu dan melihat sekelilingnya dengan sangat amat waspada. Jeremy masih menyemangati dirinya. Hanya untuk hari ini saja, dan saat pagi tiba ia akan benar-benar meng-komplain-kan semua.

Sensasi aneh terkadang dirasakan Jeremy. Kepalanya pusing, dan seperti hari pertama ia mendapat vision aneh di kepalanya. Seperti melihat kata-kata itu lagi; 'IT'S ME'. Tidak hanya itu, wajah Animatronic yang muncul terkadang Bonnie maupun Freddy, tanpa mata.

Kali ini sensasi itu muncul kembali. Dan melihat Freddy berwarna kuning dalam benaknya. "Nghh!" erangnya sambil menahan rasa sakit kepala yang dideritanya. Jeremy bersumpah besok jika ia masih ingin bekerja di sini, ia akan membeli obat sakit kepala dulu sebelum bekerja.

'Save him!'

Samar-samar telinganya menangkap perkataan itu. Suara parau yang ter-distorsi itu membuat sakit kepala Jeremy lenyap. "AH! Musiknya!"

Jeremy terburu-buru melihat Prize Corner dan menekan tombol untuk memutarkan lagu kesayangan Marionette. Jeremy membeku, matanya tertuju pada senyum joker yang mengembang pada kepala putih itu. Menyembul keluar dari kotak besar tempat ia tidur.

Jeremy sadar, Marionette itu terbangun dari tidurnya. Suara tenggorokan yang sedang menggiling saliva kembali ke dalam tubuhnya itu terdengar jelas. Jeremy mencoba melihat ruangan lain, untuk mengalihkan rasa takutnya.

Saat kembali melihat Prize Croner, hanya untuk melihat apakah dia sudah masuk kembali ke dalam tempatnya tidur atau justru keluar. Jeremy bernafas lega, Marionette tidak ada dan kotak itu tertutup lagi. Jeremy tak lupa untuk memutarkan lagu itu kembali.

Pukul empat pagi. Jeremy semakin berkeringat, lebih dari hari pertamanya. Para Animatronic itu satu persatu mendatanginya. Entah itu Foxy, Mangle, Bonnie, Chica. Maupun para Animatronic baru lainnya. Dan Jeremy pun bersyukur, Freddy maupun Toy Freddy tidak ikut mengunjunginya. Jeremy merasa sang maskot Animatronic itu kalem dan tidak suka berjalan-jalan.

.

.

.

Tubuhnya terasa terguncang, suara-suara itu membawanya ke alam sadar.

"Jeremy?"

Suara Manajer membangunkannya. "Huh?"

"Kau ketiduran?"

Jeremy mengumpulkan nyawanya yang berceceran, dan sekaligus mengumpulkan kesadarannya. "Uhm, mungkin? Jam berapa ini, Pak?"

"Jam delapan pagi," balas Manajer singkat. "Eh—aku ketiduran? Maaf, Pak!" Jeremy langsung berdiri dari tempat ia duduk. "Loh, aku bisa berdiri," tuturnya spontan. "Ha? Apa maksudmu?"

"Ah, iya, Pak! Saya bercerita jujur, saya tidak pernah berbohong selama kerja di sini—dari malam kemarin dan juga malam ini saya tidak bisa berdiri dari kursi saya, Pak! Dan—teleponnya kembali tidak berfungsi! Tapi saat tengah malam, pria itu mengirim pesan lagi," Jeremy melapor seperti bawahan kepada sang kapten.

"Sungguh?" Manajer mengangkat gagang telepon. Terdengar suara bunyi panjang tak berujung. "Lalu suara apa ini?" Manajer memencet angka-angka dengan sembarang lalu menutup teleponnya kembali. "Kau yakin ini tak berfungsi?"

"L-loh? Tapi sumpah, Pak! Semalam saya tidak bisa menghubungi siapapun dan para Animatronic itu berkeliaran lebih sering dari kemarin malam!" Jeremy menjelaskan dengan tegas.

"Dengar, Jeremy. Kami tidak punya tempat kosong lainnya jika kau memang ingin pindah shift, pilihan lain kau berhenti bekerja di sini,"

Jeremy terdiam sejenak dan meminta maaf. Disaat itu juga ia melihat waiter itu mengintip di ujung lorong sana.

.

.

.

Sebelum Jeremy pulang, ia menyempatkan diri melihat para maskot beraksi di panggung. Trio maskot itu seakan sedang bernyanyi, walau lagu itu hanya lipsync. Gerakan mereka sangat terlihat seperti robot, patah-patah dan membosankan. Tapi Jeremy tidak heran, dia pernah menjadi anak kecil tentunya, ia pernah menyukai hal seperti itu dulunya.

'Bagaimana bisa Animatronic seperti mereka bisa menjadi sangar di malam hari?'

Jeremy masih belum menemukan jawabannya.

.

.

.

"Bagaimana kerjamu?"

"Buruk,"

Teman Jeremy menyambutnya saat datang ke tempat tinggal sementaranya itu. "Sudah kuduga, apa pekerja lainnya meremehkanmu? Atau ada sesuatu?"

"Sesuatu. Kau tahu insiden yang terjadi dulu di restoran itu, 'kan? Aku hanya tahu kalau lima anak kecil hilang di restoran yang dulu,"

Jeremy menatap teman dekatnya itu. "Itu, insiden itu yang membuat mereka dipaksa tutup. Freddy Fazbear's Pizza sudah ada sejak kita kecil dan tidak terlalu terkenal. Namun aku pernah ke sana waktu kecil, yang paling ditunggu adalah kemunculan Foxy si bajak laut,"

"Dia ada di tempat kerjaku. Tidak mau diam saat malam, seperti sedang mencari makan," Jeremy tidak tahan untuk menceritakannya juga.

"Sungguh!? Tapi, tapi Foxy, dia walau berperan sebagai bajak laut, dia baik. Ada juga kelinci dan bebek, dan Freddy sendiri. Mereka suka bernyanyi di atas panggung,"

"Bukan bebek, dia ayam. Bonnie, Chica dan Freddy. Kau kangen dengan mereka? Lupakan saja, bentuk mereka sudah buruk rupa," Jeremy menghela nafasnya.

"Jadi…. Mereka benar-benar bergerak di malam hari?"

Jeremy mengangguk dan menceritakannya. "Mereka belum diperbaiki sejak datang ke restoran itu. Justru pemilik restoran membeli Animatronic baru yang lebih terlihat ramah. Memang terlihat ramah, tapi kelakuan mereka masih sama. Sama-sama suka berkeliaran saat malam. Mencari orang-orang. Atau mereka malah mencari makan," Jeremy mengangkat bahunya.

"Jadi insiden itu disebabkan oleh mereka adalah benar. Tapi ada yang mengatakan bahwa pegawainya yang melakukannya. Aku sendiri tidak tahu pasti," temannya itu ikut mengangkat bahunya.

"Memangnya apa yang terjadi?" Jeremy bertanya penuh penasaran.

"Ada lima anak, saat di dalam restoran itu sedang menikmati pertunjukan Foxy. Hanya lima anak itu dan Foxy dalam ruangan. Selanjutnya mereka tidak ditemukan di manapun. Diduga Foxy rusak atau dikendalikan oleh seseorang. Sampai berhari-hari ke lima anak itu tidak ditemukan. Lalu Freddy saat itu warnanya kuning,"

"Tunggu! Golden Freddy, maksudmu?" Jeremy memotong, mendapati jawaban positif dari temannya, Jeremy langsung menelan ludah. "Dia muncul di hari pertama aku bekerja, padahal pihak restoran tidak membawanya,"

"Uh, kalau aku jadi kau, aku berhenti bekerja di sana. Oke, kita lanjut. Golden Freddy itu mengeluarkan bau tidak enak, dan membuat para orang tua komplain. Dan yang benar saja, dari matanya Golden Freddy ternyata ada sedikit bercak darah dan lendir! Tidak hanya Golden Freddy, semua Animatronic juga. Tapi polisi tidak dapat menemukan tubuh lima anak itu. Darah itu ternyata memang berasal dari anak-anak yang hilang saat diselidiki. Sejak kejadian itu, berbagai pihak meminta Freddy Fazbear's Pizza ditutup. Dan tidak beroperasi lagi selama bertahun-tahun,"

Jeremy manggut-manggut. "Jadi pembunuhnya belum ditemukan?"

"Belum, entah itu pekerjanya atau para maskot yang melakukannya. Polisi tidak sanggup mengungkapkannya. Jadi kau masih mau bekerja di sana?"

"Walau aku takut setengah mati setelah dua malam diteror oleh mereka. Entah kenapa aku masih penasaran. Maksudku, kemarin sebelum aku memulai jam kerjaku. Televisi yang kugunakan tahu-tahu memainkan suatu game yang sepertinya tentang restoran itu sendiri. Saat kutanya pada Manajer, dia tidak tahu apa-apa. Dan aku meminta kalau seandainya dia mau bukti bahwa aku tidak berhalusinasi, aku akan membawa teman untuk berjaga denganku. Dia menolak," "Hmm, ya sudah. Itu hakmu, kawan. Tapi, aku benar-benar khawatir kalau kau masih bekerja di sana. Sampai sekarang pembunuh itu belum ditemukan masalahnya,"

Hal-Hal Yang Tidak Boleh Kamu Katakan Kepada Anak

Anak anak di ibaratkan seperti kertas putih yang masih bersih akan goresan tinta bila kita mengajarinya akan nilai kebaikan budi pekerti maka akan baik pula karekter anak saat dewasa.Tapi jika seorang anak di ajarkan akan nilai keburukan maka jangan salahkan bila saat dewasa nanti seorang anak berperilaku menyimpang.

Seorang pribadi anak adalah cermin dari orang tua itu sendiri bila orang tua sering berbuat kebaikan maka anak akan menirunya pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. dan anak hanya butuh teladan yang baik agar dapat di contoh dalam berperilaku.

Mengajarkan anak untuk mengetahui mana yang baik dan benar merupakan tanggung jawab dari orangtua. Ada tantangan tersendiri ketika anak Anda berada dalam usia sensitif yang baru belajar hal-hal yang berada di sekitarnya.
Sebagai orangtua, disarankan untuk tidak menggunakan emosi ketika anak Anda berperilaku tidak semestinya. Pasalnya hal tersebut dapat mengakibatkan anak kita mengalami gangguan psikologis.




Oleh karena itu, mempertimbangkan setiap kata dan intonasi yang diucapkan kepada anak kita menjadi sebuah kewajiban. Berikut 6 hal yang menurut ane tidak boleh dikatakan orangtua kepada anak di usia pertumbuhan.

1. Biarkan Saya Sendiri

Setiap orangtua kadang memerlukan waktu untuk memanjakan diri sendiri. Namun, jika kita terus menerus menghindari buah hati untuk menghabiskan waktu bersama kemungkinan besar anak kita akan merasa tidak dicintai dan diabaikan dan ini tidak baik untuk perkembangan mentalnya.

2. Menangis Terus Seperti Bayi

Mencemooh anak-anak dengan kata2 itu ketika marah atau saat mereka menangis bisa menyebabkan efek serius bagi keadaan emosional mereka. Orangtua diharapkan berada di sisi anak ketika mereka tengah mengatasi masalah agar anak merasa ada yang perduli dengan dia.

3. Jadilah Seperti Teman Kamu


Membandingkan anak kita dengan saudara atau teman-temannya secara berulang-ulang dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri anak kita. Secara tidak langsung, dapat juga membuat anak kita mengembangkan rasa benci terhadap orangtua dan teman yang dibandingkan.

4. Hentikan, Atau Saya Pukul

Ancaman psikis terhadap anak-anak kita dengan cara yang serius atau membuat anak kita menjadi takut akan berakibat buruk karena dapat mengembangkan sikap pemberontak dalam diri anak dan tidak berani mengambil keputusan.

5. Kamu Gendut / Kurus


Mengkritik / mengejek tubuh atau penampilan anak kita bisa menjadi hal yang sangat negatif untuk dilakukan. Anak kita akan merasa tidak terlihat baik dan mempunyai kekurangan, juga dapat mengarah ke masalah psikologis.

6. Perempuan / Laki-laki Tidak Melakukan Hal Itu

Stereotip gender yang diturunkan kepada anak kita melalui sebuah perintah atau ucapan bukan sebuah ide yang baik. Di dunia yang serba modern dan berteknologi ini sebaiknya ank kita diajari betapa pentingnya independensi dan kesetaraan gender. Semua pekerjaan ataupun tugas bisa dilakukan baik anak laki laki / perempuan.